Barisan Pemain Muda Ajax Minus Ketenangan dan Kematangan Gagal di Final Europa League

Aonwin – Final Europa League terbukti menjadi pertandingan yang terlalu berat bagi Ajax. Digadang-gadang sebagai tim terbaik yang diproduksi oleh klub Belanda di lebih dari satu dekade, kelas pemain muda Ajax 2017 tampil minus kematangan dalam kekalahan 2-0 dari Manchester United di Stockholm pada hari Kamis dinihari tadi.

“Tidak cukup baik,” adalah penilaian pelatih Ajax Peter Bosz. Bosz mengemukakan hal itu pada beberapa faktor: besarnya kesempatan, pengalaman tim, pendekatan United yang berhati-hati, dan beberapa kemalangan.

“Saya tidak melihat Ajax yang biasa saya lihat,” kata pelatih tersebut. Dengan aksen pada pertunjukan skill dan permainan menyerang, de Godenzonen telah mengembalikan identitasnya musim ini, berkembang di bawah Bosz menjadi tim yang dibangun dengan citra pemain paling terkenalnya – Johan Cruyff.

Melalui apa yang sekarang banyak disebut sebagai “Revolusi Cruyff” di tahun 2011, Belanda berusaha keras untuk menghentikan kemunduran bagi tim yang bermarkas di Amsterdam Arena dengan membawa kembali beberapa mantan pemain terdepannya – termasuk Marc Overmars, Edwin van der Sar, Wim Jonk – di berbagai Kapasitas untuk menjalankan klub dan membuat pemain muda menjadi landasan tim.

Cruyff meninggal pada Maret 2016 namun salah satu dari sekian banyak warisan yang tersisa adalah barisan pemain Ajax saat ini, yang memiliki usia rata-rata sekitar 22 dan telah menggetarkan sepak bola Eropa musim ini dengan beberapa penampilan menjanjikan saat melaju ke final Europa League.

Davy Klaassen [sumber: AP]

Di Stockholm, Ajax menerjunkan barisan pemain yang menampilkan enam pemain berusia 21 atau lebih muda. Pada kesempatan ini, para pemain muda terbukti tidak memiliki cukup kematangan dan ketenangan. United menggertak anak-anak muda Ajax dengan fisik dan manajemen permainan mereka, sementara pemain United dibawah asuhan Jose Mourinho yang menolak bermain terbuka dan memilih taktik bola panjang membatalkan mimpi para pemain Ajax.

Tertinggal 1-0 pada menit ke-18 melalui tembakan Paul Pogba yang dibelokkan oleh pemain belakang mereka membuat tugas Ajax semakin sulit. Tim asal Belanda tampak rapi dan solid dalam beberapa periode, namun nyaris tak pernah mengancam kiper United Sergio Romero.

Mungkin kekecewaan terbesar adalah pada Kasper Dolberg, striker Denmark yang digemborkan sebelum partai final namun tidak memiliki dampak apapun atas permainan mereka sebelum akhirnya diganti pada menit ke-63. Pada saat itu, Ajax telah tertinggal 2-0 setelah gol Henrikh Mkhitaryan di menit ke-48.

“Saya pikir itu adalah permainan yang membosankan,” kata Bosz, sembari menyoroti pengalaman permainan milik United. “Ini adalah salah satu aspek permainan dimana mereka lebih baik dibanding (pemain Ajax) adalah mereka telah terbiasa untuk bermain final Ini semua baru bagi pemain kami, Mereka akan belajar banyak dari itu dan kita akan menjadi lebih kuat .. Jika kita menjaga skuad ini bersama-sama , Kita akan lebih kuat, pasti. “

Itu pertanyaannya, sekarang: Bisakah Bosz tetap menjaga para pemain bintangnya? Sama seperti Monaco, yang melaju ke semifinal Liga Champions dengan memukau sepak bola Eropa, skuad penuh talenta muda ini dalam bahaya dimana para pemainnya dicomot oleh klub kaya benua ini di pada jendela transfer musim panas ini.

Dolberg, gelandang Hakim Ziyech dan bek tengah Davinson Sanchez kemungkinan akan menjadi sangat banyak diminati. Namun Ajac yang terkenal dengan pemain akademinya sadar bahwa penyiapan pemuda Ajax bagi generasi baru pemain berbakat mungkin akan datang dan menggantikan para pemain yang sekarang. Itulah arah yang diambil klub, dengan Dennis Bergkamp dan Aron Winter – mantan pemain Ajax dan tim nasional Belanda – sekarang berada di antara jajaran para pelatih.

Ajax kalah tipis di Eredivisie, finis kedua menyerah dari Feyenoord, dan kini telah kalah di final Europa League. Tim muda ini akan belajar dari masa-masa sulit ini, dan masa depan masih sangat panjang bagi para pemain ini.