Bertekad Tebus Kekalahan, Gianluigi Buffon Bermimpi Bawa Juventus Sebagai Juara Liga Champions

Aonwin.info – Sebagai Seorang kiper veteran, Gianluigi Buffon memang menyaksikan setiap naik dan turun dari tim Juventus. Kiper ini berada di saat-saat kejatuhan Juventus, dan seklaigus ada ketika sang tim berada di posisi puncak. Dan karena inilah, tka mengherankan bila akhirnya Gianluigi Buffon berharap bisa menebuh kekalahan yang dirasakan oleh sang tim Nyonya Tua dengan kemenangan besar.

Salah satu kekalahan paling besar, dan paling menyakitkan yang dirasakan oleh Juventus tentu saja ketika harus menyerah kalah di kompetisi bergengsi benua biru Eropa, Liga Champions. Tak hanya satu kali, namun dua kali kekalahan di final di rasakan oleh Gianluigi Buffon bersama dengan Juventus. Yang pertama, pada final yang digelar di tahun 2003 ketika final digelar di Manchester, juga Berlin pada 2015 kemarin. Kekalahan pada tahun 2015 lalu dirasakan oleh Juventus ketika berhadapan dengan Barcelona di babak final.

“Jelas terdapat kemauan untuk menebus kekalahan di final Berlin, tetapi saya juga menghendaki membalas kegagalan di laga kontra Manchester pada 2003 lalu, kekalahan tersebut menjadi dorongan berlipat bagi saya,” kata Buffon kepada UEFA.com.

“Pada 2015, kita kalah atas Barcelona. Kami melewatkan mereka mencetak gol pada serangan balik: [Lionel] Messi berikan tendangan, saya menepisnya tetapi [Luis] Suarez mencetak gol [lewat rebound].

Tak hanya kekalahan pada tahun 2015 saja yang benar-benar menyakitkan untuk Juventus. Namun juga pada kekalahan di tahun 2015 lalu atas Barcelona. Kedua kekalahan tersebut inilah yang ingin diganti oleh Gianluigi Buffon pada pertandingan di musim ini. Dan dua kekalahan ini pula yang akan meleceutkan keinginan Juventus dan juga Gianluigi Buffon untuk meraih kemenangan di semi final Liga Champions pada musim 2016/17 ini. Terlebih pada kali ini, Juventus juga berhadapan dengan Barcelona. Dan akhirnya berhasil mencuri kekalahan dari tim tersebut.

“Kalah di adu penalti pada tahun 2003 terhitung benar-benar menyakitkan, tetapi ketika itu saya masih 25 tahun. Saya tetap tenang, saya begitu yakin bahwa saya bisa memenangkannya untuk berkali lagi. Namanya saja ketika itu saya masih muda.

“Saya sendiri nyaris memenangkannya selagi itu; mereka [Milan] gagal di tiga penalti di final selanjutnya – saya menyelamatkan dua di antaranya. Namun hal aneh terjadi. Tentu tidak begitu harusnya dan kita tidak benar-benar bagus. Dalam olahraga dan kehidupan, mereka yang lebih pantas pada dapatkan pengakuan.

Gianluigi Buffon mengakui, dirinya merasakan bahagia yang teramat sangat ketika berhasil merampungkan babak perempat final Liga Champions 2016/17 di leg kedua. Tak hanya karena melaju ke babak berikutnya. Namun juga menebus kekalahan atas Barcelona.

“Setelah laga leg putaran ke-2 [di babak perempat-final] melawan Barcelona musim ini, saya benar-benar bahagia, tentu saja, tetapi saya tidak banyak berselebrasi gara-gara saya paham bahwa di titik selanjutnya Anda berpeluang untuk memenangkan trofi atau malah kecewa kemudian. Dan gara-gara saya sudah kerap mengalami kekecewaan, saya perlu meyakinkan bisa menggapai kemenangan, dan sesudah itu baru berselebrasi.

“Itu [kompetisi Liga Champions] berarti besar untuk saya. Itu dapat menjadi kebahagiaan yang terbesar dalam karier saya, tidak cuman Piala Dunia [2006], gara-gara itu layaknya penghargaan – yang menjadi akhir dari seluruh perjalanan sulit, berliku dan kerja keras ini.

“Saya tetap menghendaki memenanginya dan saya tetap yakin bahwa saya bisa melakukannya dengan tim saya, pendukung tim dan rekan satu tim. Itu dapat menyenangkan,” imbuh Buffon.