Profil Negara Peserta Piala Konfederasi Rusia 2017 [Grup A]

Aonwin – Piala Konfederasi digelar sebagai ajang pemanasan bagi pemegang tahta Piala Dunia periode sebelumnya dan juara-juara kompetisi sepakbola pada setiap benua. Ajang ini juga dijadikan ajang latihan untuk tuan rumah dalam mengelola fans dan mengecek tingkat kesiapan mereka untuk menghadapi event akbar sekelas Piala Dunia di tahun berikutnya.

BACA JUGA: Ajang Pemanasan Sebelum Piala Dunia Terancam Dibatalkan 

Grup A

RUSIA (Peringkat FIFA: 63)

Tuan rumah akan memamerkan stadion baru yang mengilap, sementara tim sepakbola mereka tidak terlalu dapat menyombongkan diri. Pada babak penyisihan grup di Kejuaraan Eropa tahun lalu Rusia banyak diingat gaya permainannya yang lamban dan mudah diprediksi.

Skuad: Pemain belakang veteran Vasily Berezutsky dan Sergei Ignashevich telah memilih untuk pensiun dari sepakbola internasional, namun pengganti mereka yang lebih muda belum membuat tanda-tanda baik untuk mengganti peran mereka di lini belakang. Fyodor Smolov adalah ancaman utama pada lini serangan, sementara rekan setimnya Alexander Kokorin tidak terpilih. Cedera semakin menurunkan kemampuan Rusia yang memang sedang berada pada level terendah, dengan gelandang Alan Dzagoev dan Roman Zobnin terpaksa ditinggal dalam pemilihan skuad untuk bermain di Piala Konfederasi, bersama dengan penyerang Artyom Dzyuba.

Pelatih: Stanislav Cherchesov mulai dipekerjakan pada bulan Agustus untuk memperbaiki banyak masalah dalam skuad ini. Setelah awal yang buruk, pertandingan imbang 1-1 melawan Chile mulai memberi harapan bagi publik yang ingin melihat tim nasional mampu berbicara banyak dalam level sepakbola dunia.

PORTUGAL (Peringkat FIFA: 8)

Sebagian besar pemain yang membantu Portugal meraih gelar besar pertama di Euro 2016 akan kembali untuk debut pertama mereka dalam ajangPiala Konfederasi. Belum dapat dipastikan apakan Portugal akan kembali ke Rusia untuk Piala Dunia. Portugal berada di posisi kedua dalam grup kualifikasi dan hanya pimpinan grup yang secara otomatis masuk ke fase grup Piala Dunia.

Skuad: Cristiano Ronaldo akan bergabung terlambat dengan skuad saat ia menjalani masa istirahat menyusul keberhasilan Liga Champions bersama Real Madrid. Satu pemain yang absen di Rusia adalah pemenang pertandingan final Euro 2016 bagi Portugal Eder, yang tidak tampil meyakinkan bersama klubnya.

Pelatih: Fernando Santos mengambil alih Portugal setelah memimpin Yunani ke perempatfinal Euro 2012 dan ke 16 besar Piala Dunia 2014. Pelatih asal Lisbon ini semakin berkembang dengan Portugal di Euro 2016 dengan setup yang didasarkan pada pertahanan yang solid dan serangan balik yang efektif. Tidak dipungkiri bahwa akan menjadi lebih mudah saat Ronaldo berada di dalam skuad Anda.

MEKSIKO (Peringkat FIFA: 17)

Meksiko melewatkan kesempatan bermain ke Piala Dunia 2014 namun perjalanan tim ini turnamen 2018 telah jauh lebih mulus dan mendominasi kualifikasi CONCACAF.

Skuad: Javier “Chicharito” Hernandez tiba di Rusia dalam keadaan fit sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa Meksiko dengan torehan gol ke-47 internasionalnya.

Pelatih: Juan Carlos Osorio telah membungkam kritiknya saat para pemain  Meksiko mempertontonkan kemampuan mengatur permainan yang elok dalam kualifikasi CONCACAF. Pelatih asal Kolombia ini baru kalah pada dua pertandingan sejak dipekerjakan pada tahun 2015 dan hanya satu pada laga kompetitif.

SELANDIA BARU (Peringkat FIFA: 95)

Selandia Baru lolos ke Piala Konfederasi dengan memenangkan Piala Oseania. Meski melaju mulus di kualifikasi Piala Dunia, Oceania tidak dijamin menjadi tempat di Rusia. Itu tergantung pada kemenangan playoff melawan negara Amerika Selatan.

Skuad: Penyerang Chris Wood akan menjadi kapten Selandia Baru setelah bek West Ham Winston Reid dipaksa keluar karena cedera lutut. Wood adalah top-scorer di tingkat kedua Inggris musim lalu. Bill Tuiloma dari Marseilles akan menjadi pemain yang menjaga  kestabilan di lini tengah.

Pelatih: Anthony Hudson telah bekerja keras untuk mengubah struktur domestik Selandia Baru dan pola pikirnya. Pelatih Inggris ini tidak membiarkan pemainnya menyebut diri mereka underdog, bahkan melawan oposisi terkuat.