Ronaldo Berencana Taklukkan Partai Final Champions League

Aonwin – Menyelesaikan musim ketika perlahan-lahan usianya mulai mengejarnya, Cristiano Ronaldo akan mencoba memecahkan rekor baru. Ketika Real Madrid akan ke Millennium Stadium untuk menghadapi Juventus pada hari ini, itu akan menjadi final Liga Champions kelima dalam sembilan tahun untuk pemenang tiga kali trofi bergengsi ini.

Pada kesempatan kali ini Ronaldo memiliki kesempatan untuk meraih sesuatu yang harus dicapai dalam 25 musim kompetisi. Jika Madrid berhasil mengangkat trofi tersebut maka itu akan menjadi rekor bersejarah untuk menjadi tim yang berhasil memenangkan 12 kali Liga Champions dan menjadi satu-satunya tim yang berhasil mempertahankan gelar Liga Champions.

BACA JUGA: Menanti Rekor Baru di Final Champions League

Satu hal yang sudah pasti akan berbeda pada final hari ini adalah: Trofi bergengsi Liga Champions ini akan diperebutkan di bawah atap tertutup, dengan otoritas Cardiff menjaga kemungkinan serangan pesawat tak berawak (drone). Namun ini bukan pengalaman baru bagi Ronaldo. Dia adalah pengunjung reguler stadion nasional Welsh selama karirnya di Manchester United saat menggelar final sepak bola Inggris, walaupun satu kali pengalaman bermain di bawah stadion yang tertutup atapnya buruk dimana dia kalah. Final Piala FA 2005 juga merupakan satu-satunya dari empat kunjungan Ronaldo dengan United dimana ia tidak mencetak gol dan tampil sebagai pemenang.

Ini sebenarnya suatu kemunduran yang langka dalam karirnya yang terus berlanjut, bahkan saat pemain depan berusia 32 tahun itu harus menerima untuk diistirahatkan agar tetap segar untuk pertandingan-pertandingan besar. Sulit untuk diperdebatkan karena sistem rotasi skuad Zinedine Zidane dalam skuad Madrid telah menghadiahkan gelar liga Spanyol dan final Champions League.

“Jelas yang paling saya inginkan adalah bermain lebih leluasa di depan,” kata Ronaldo, “dan itulah kesempatan yang Zinedine Zidane berikan kepada saya sebagai Nomor 9. Saya bermain dengan bebas, saya bermain di sayap, di tengah. Saya bermain kapan pun saya harus bermain. “

Ronaldo, bagaimanapun, tidak mungkin menemukan banyak kebebasan melawan Juventus, sebuah tim dengan salah satu pertahanan terbaik dalam sepak bola. Di 12 laga Eropa musim ini, Juventus hanya kebobolan tiga gol dan kini ingin menjadi juara tak terkalahkan pertama sejak Manchester United di tahun 2008.

Di jantung pertahanan Juventus terdapat seorang pemain yang ingin menjadi pemenang tertua Champions League: kiper berusia 39 tahun itu adalah Gianluigi Buffon. Sebuah gelar Eropa adalah salah satu dari beberapa hadiah utama untuk menghindari kesedihan pemain Italia ini yang kerap merasakan kekalahan pada dua kali final Liga Champions sebelumnya.

“Saya masih muda meskipun saya berusia 39 tahun,” kata Buffon melalui seorang penerjemah di Cardiff. “Banyak orang memikirkan karir saya yang sangat panjang … saya mendapatkan lebih dari yang saya berikan, tapi itu akan menjadi akhir yang sempurna seperti dongeng dan orang-orang suka cerita dongeng.”

Juventus belum memiliki banyak gelar di kancah Eropa. Yang terakhir dari dua gelar dimenangkan pada tahun 1996, sementara Madrid telah memenangkan lima sejak saat itu.

Madrid akan menghadapi pertahanan kokoh yang didukung oleh unit penyerang tangguh yang dipimpin oleh Paulo Dybala. Pemain Argentina, yang telah menarik perbandingan yang tak terelakkan dengan Lionel Messi, serta telah mencetak empat gol dalam 10 penampilan Eropa musim ini.

“Dalam latihan suatu hari, saya melihat sesuatu di dalam diri Dybala yang pernah saya lihat sebelumnya di Messi,” ungkap bek kanan Juventus Dani Alves, mantan pemain Barcelona, ​ditulis dalam sebuah kolom pada hari Jumat di situs The Players’ Tribune. “Bukan hanya karunia bakat murni, saya telah sering melihat hal itu dalam hidup saya, itu adalah bakat murni yang dikombinasikan dengan kemauan untuk menaklukkan dunia.”

Dybala telah berkembang pesat sejak pelatih Juventus Massimiliano Allegri mengubah formasi tim untuk mengakomodasi bakat menyerangnya. Dybala bergabung dengan Juan Cuadrado dan Mario Mandzukic dalam sebuah skema trio yang berada di belakang Gonzalo Higuain, sementara Miralem Pjanic berada di belakang mereka bersama Sami Khedira.