Tiga Fase Kepelatihan Arsene Wenger di Arsenal [Bagian Pertama]

Aonwin – Awalnya ada intrik. Lalu muncul kekaguman. Selanjutnya datang kasihan, diikuti dengan amarah dan protes. Proses inilah yang telah menjadi roller coaster emosi selama masa jabatan 21 tahun Arsene Wenger di Arsenal, yang akan berlanjut setelah pelatih asal Prancis tersebut menandatangani perpanjangan kontrak untuk dua tahun mendatang pada hari Rabu (31/05).

Fase Keemasan [1996 – 2006]

“Arsene siapa?” adalah headline berita utama di sebuah surat kabar London ketika Arsene Wenger, seorang pelatih Prancis yang kelihatan geeky, berkacamata dan relatif tidak dikenal dipekerjakan oleh Arsenal pada bulan September 1996. Namun, Dalam waktu dua tahun, jelas klub London Utara tersebut telah berhasil membuat sebuah kudeta bagi hagemoni tim besar di Premier League waktu itu.

BACA JUGA: Arsenal Perpanjang Kontrak Sang Pelatih untuk Durasi Dua Tahun ke Depan

Dua tahun, durasi waktu itulah yang dibutuhkan Wenger untuk mengubah Arsenal – budaya minum para pemainnya, kebiasaan makan dan gaya bermain tim mereka – dan membawa klub tersebut ke double trophy, Premier League dan FA Cup pada tahun 1998 di akhir musim penuh pertamanya di klub Meriam London tersebut. Arsene Wenger  adalah manajer asing pertama yang meraih trofi ganda di ranah sepakbola Inggris.

Skuad The Invincible Arsenal musim 2003 -2004 [sumber: arsenal]

Dibantu oleh pengetahuannya tentang liga Prancis, Wenger dengan cepat mulai membangun tim yang tangguh: Patrick Vieira sudah bergabung sebelum Wenger datang; Marc Overmars, Emmanuel Petit dan Nicolas Anelka bergabung menjelang musim 1998-99; Thierry Henry menggantikan Anelka pada tahun 1999. Pada tahun 2001, Arsene Wenger membangun tim yang akan dikenal sebagai ” The Invincibles” – yang melewati musim liga 2003-04 tak terkalahkan.

Arsenal pulih dari kekalahan final Piala UEFA atas Galatasaray pada tahun 2000 dan final Piala FA dari Liverpool pada tahun 2001 dengan memenangkan satu lagi piala liga pada tahun 2002. Musim “Invincibles” akan menentukan masa jabatannya, dengan Arsenal memenangkan 26 pertandingan dan mendapat hasil seri di 12 laga lainnya dengan bermodalkan pemain seperti Henry, Vieira, Robert Pires, Dennis Bergkamp dan Sol Campbell yang bermain fantastis sepanjang musim. Bahkan The Invincibles asuhan Wenger dianugerahi trofi Premier League versi emas khusus sebagai pengakuan kesempurnaan mereka menjalani musim.

Arsenal kemudian memenangkan Piala FA pada 2005 setelah melewati drama adu penalti melawan Manchester United. Hanya sedikit yang bisa membayangkan itu akan menjadi trofi terakhir klub tersebut selama sembilan tahun. Meski Arsenal mencapai final Liga Champions musim berikutnya, dan harus menerima kekalahan dari Barcelona setelah memimpin terlebih dulu di Paris, serta merebut tempat keempat di klasemen akhir Premier League – kali pertama Wenger membawa tim asuhannya di luar dua besar dalam satu musim penuh – dan ini adalah pertanda perubahan besar yang akan datang.

Fase Berhemat [2006 – 2013]

Arsenal meninggalkan Stadion Highbury setelah menjadi rumah bagi Arsenal selama 93 tahun dan pindah ke Stadion Emirates yang dibangun cukup dekat pada tahun 2006. Tiba-tiba prioritas bagi Arsene Wenger adalah pembiayaan stadion baru berkapasitas 60.000 tempat duduk sambil memperkuat skuad bermain. Vieira telah meninggalkannya pada tahun 2005, Henry dan David Dein – yang merupakan wakil ketua dan teman kepercayaan Wenger di dewan direksi – angkat kaki pada 2007, dan Arsenal berbelok arah dengan membawa pemain muda dan pemain yang lebih murah.

Ada sedikit penurunan kepemimpinan di klub, di dalam dan di luar lapangan, dan kehilangan sosok kapten tersebut mulai menunjukkan dampak buruknya. Antara 2007-13, Arsenal finis di posisi ketiga atau keempat di Premier League dan jarang mendapat titel. The Gunners memimpin lima poin pada Februari di musim 2007-08 dan diluncurkan pada bulan-bulan terakhir musim 2010-11 saat bermain di empat kompetisi, termasuk kalah dari Birmingham di final Piala Liga.

[Bersambung ke Bagian Dua]